Jam menunjukkan pukul 1 lewat 30 menit, waktu terus berjalan sampai pukul 2 lewat 10. Dan orang yang di tunggu pun akhirnya datang. Nano yang dari tadi menunggu, sangat kesal akan perbuatan Fino. Dan Nano pun bergegas meninggalkan Fino tanpa kata yang terucap. Fino pun mengejar Nano untuk meminta maaf atas perbuatannya. Namun apa daya Nano langsung pergi dengan mobilnya dan meninggalkan Fino.
Sesampai di rumah Nano masih dengan raut wajah yang kesal, entah ada setan apa yang merasukinya semua orang yang ada di rumah di buatnya ketakutan dengan sikapnya itu. Ibunya mencoba menanyakan ada masalah apa dengan Nano, namun Nano langsung menuju ke kamarnya dan menguncinya.
“Kringgg…kringgg.., suara handphone milik Nano bordering”, Nano tetap berada di kasurnya yang empuk, tidak menanggapi handphonenya tersebut. Nano sengaja tidak menanggapi panggilan itu karena ia tahu bahwa yang menelepon itu Fino.
Berulang kali Fino menelepon tetap tidak ada tanggapan dari Nano. Dan Fino mencoba datang ke rumah Nano, untuk meminta maaf. Namun di saat yang bersamaan Fino di telepon oleh pamannya, agar segera pulang ke rumah, untuk segera bersiap-siap, karena satu jam lagi pesawatnya akan berangkat. Lalu Fino mengurungkan niatnya itu dan langsung pergi menuju ke rumah. Fino harus segera berangkat dikarenakan ibu kandungnya yang berada di sedang sakit keras.
Jam menunjukkan pukul 18.05 WIB adzan maghrib terdengar, namun Nano masih di tempat tidurnya. Suara lantang datang dari depan pintu kamar, itu suara ibunya menyuruh Nano untuk segera mengerjakan sholat maghrib. Masih dengan lelahnya Nano bersantai-santai di tempat tidur. Setelah beberapa langkah pada saat Nano ingin berwudhu, terdengar suara ringtone dari hpny. tapi Nano tidak menghiraukannya dan tetap pergi berwudhu. 10 menit kemudian, Nano mengambil hpnya dan membaca pesan-pesan yang di terimanya. Nano sempat kaget melihat inbox yang ada di hpnya sampai 100 pesan belum terbaca, dan 20 panggilan tak terjawab. Nano bingung dan merasa ada sesuatu yang gawat akan terjadi. Nano melihat semua pesan dan panggilan itu semua dari Fino. Sahabatnya yang paling ia kenal dan yang paling ia kagumi.
Dari salah satu pesannya Fino menyampaikan minta maafnya kepada Nano. Nano sempat heran, dan ia merasa hal ini tak biasanya terjadi, karena pada saat Fino berbuat salah kepada Nano karena hal kecil, sikap Fino biasa saja dan Nano pun begitu. Namun situasi ini berbeda dengan yang biasanya terjadi. Akhirnya Nano mencoba menghubungi Fino dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sekitar 20 menit sebelum keberangkatan, Fino yang telah berada di dalam pesawat dan dengan rasa bersalah. Fino yang tampak gelisah, mencoba menenangkan dirinya dengan berzikir. Selain mencemaskan ibunya, Fino juga mencemaskan sahabatnya Nano. Tampa berpamitan terlebih dahulu membuatnya semakin bersalah kepada Nano.
Fino yang telah berada di dalam pesawat, dengan sikap yang sama ia masih merasa menyesal. Lalu pamannya bertanya kepada Fino. Ada apa Fino ? dari tadi paman lihat, kamu gelisah sekali. apa yang kamu pikirkan? Fino pun menjawab dengan suara yang rendah, tidak paman tidak ada apa-apa.
5 menit sebelum keberangkatan. Nano membawa mobilnya dengan sangat cepat. Hampir ia menabrak seseorang di persimpangan. Lampu merah yang seharusnya berhenti, Nano malah menerobosnya dan hampir lagi menabrak, kali ini pengendara sepeda motor. Namun Ia tidak menghiraukannya. Akhirnya Nano tiba di rumah Fino. Ia melihat dari luar, keadaan rumah sudah tampak sepi. Dan ternyata firasatnya benar, Nano melihat pagar rumah Fino di gembok. Pertanda ini semakin membuat cemas Nano. Nano mencoba bertanya kepada seorang yang ada di sekitar, namun hasilnya nihil. Nano mencoba menelepon Fino, namun selalu gagal.
Dag dig dug dag dig dug, jantung Nano berdetak sangat kencang. Di dalam hatinya, Nano bertanya-tanya “kemana perginya Fino, yang tanpa meninggalkan informasi”.
3 menit sebelum pesawat akan terbang, Fino mencoba untuk tenang. Berkali-kali ia melihat ke luar jendela. Entah apa yang ada di dalam benak Fino, yang di pikirkannya hanyalah rasa bersalah. Pesawat pun akhirnya lepas landas. Meninggalkan bandara. Fino pun membiarkan perasaannya itu hilang begitu saja karena ia tahu sesuatu yang baik akan terjadi.
Jam menunjukkan pukul 20.15 WIB, Nano pulang dengan perasaan yang sangat membuatnya bingung dan bertanya-tanya. Tiba-tiba ia langsung masuk ke rumah tanpa mengucap salam. Ibunya mencoba bertanya kepada Nano, namun tetap saja Nano diam tanpa kata. Ibunya pun kesal akan sikap Nano yang cuek. Ibunya tahu bahwa Nano sedang memiliki masalah. Lalu ibunya membuatkan the hangat untuk Nano. Dan ibunya membujuk rayu dengan secangkir teh,, agar Nano mau menceritakan masalah yang di hadapinya. Namun, Ibunya tidak berhasil. Alhasil ibunya pun pergi dari kamar.
Keesokan harinya , seperti biasa pagi-pagi Nano pergi kuliah. Namun Nano mengurungkan niatnya untuk pergi ke kampus. Masih dengan perasaan yang sangat kecewa dan menyesal, Nano masih ingin mencari tahu tentang keberadaan Fino. Dan Nano pergi ke suatu tempat, dimana tempat itu mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Di sana Nano hanya bisa diam dan merenungi kesalahannya.
1 bulan telah berlalu, sampai pada saat itu Nano benar-benar tidak mendapatkan kabar dari Fino. Dan akhirnya Nano mencoba melupakan itu semua, karena ia yakin bahwa apa yang telah terjadi tidak dapat kembali lagi ke masa itu. Nano mencoba itu dengan keikhlasan dan berharap bahwa Fino baik-baik saja.




